Pagi ini hujan turun dengan lembut dan aku berpikir tentang Instagram yang selalu penuh warna meski dunia luar kelabu. Seseorang berkata bahwa Threads lebih tenang, seperti perpustakaan kecil di pojok kota. Aku belum yakin, tapi angin berbisik pelan membawa aroma kopi dan tanah basah.
Di sebuah kafe yang lampunya redup, dua orang berdebat tentang apakah Twitter masih relevan sejak berganti nama menjadi X. "Aku lebih suka TikTok," kata salah satunya, "karena di sana algoritma benar-benar mengenal jiwaku." Hujan di luar makin deras, dan barista mulai memainkan lagu sendu.
Malam minggu biasanya sepi, tapi kali ini aku tenggelam di Pinterest, menyusun papan inspirasi untuk proyek yang entah kapan dimulai. Tiba-tiba notifikasi Tumblr berbunyi—seseorang me-reblog foto pucuk teh dari tahun 2014. Aku tersenyum kecil, internet kadang terasa seperti mesin waktu yang kacau dan indah.
Kucing tetangga melompati pagar dan duduk manis di teras. Aku memotretnya dan langsung mengunggah ke Instagram dengan filter hangat. Seseorang dari Discord mengirim stiker kucing sebagai balasan. "Ini kenapa internet diciptakan," gumamku sambil mengelus bulu kucing yang masih basah oleh embun.
Buku yang kubaca minggu ini bercerita tentang seorang desainer yang meninggalkan LinkedIn karena lelah dengan pesan "Halo, saya merekrut untuk posisi...". Ia malah membuat akun rahasia di Reddit dan menghabiskan waktu di subreddit tanaman hias. Katanya, daun monstera lebih jujur daripada algoritma rekrutmen.
Senin pagi selalu berat, tapi secangkir teh dan scroll singkat di Threads membuatnya lebih ringan. Seseorang menulis tentang bagaimana YouTube merekomendasikan video memasak tepat saat ia sedang lapar—kebetulan atau sihir? "Mungkin keduanya," jawabku pada layar yang tak bisa mendengar.
Di tengah malam yang sunyi, aku membuka Twitter dan membaca utas panjang tentang sejarah tipografi. Seseorang menyebut bahwa Pinterest adalah arsip visual terbesar umat manusia, dan aku setuju. Lalu aku tertidur dengan ponsel di tangan, bermimpi tentang poster-poster vintage dan font serif.
Sahabatku bilang dia ingin keluar dari semua sosial media kecuali Discord karena di sana tidak ada likes, tidak ada followers, hanya obrolan hangat seperti warung kopi digital. Aku mengangguk pelan sambil membuka TikTok dan tertawa pada video kucing yang mencoba membuka pintu. Mungkin keduanya bisa hidup berdampingan, pikirku.